Jumat, 16 Desember 2011

SURAT MISTERIUS (PART 3)

SURAT MISTERIUS
PART 3
Badai Itu Merayu dikala Futurku.
Kamis, 13 Oktober 2005
            Sudah satu bulan ini hidayah Allah itu Naida rasakan, perasaan Naida menjaadi lebih tenang dan tentram.Padahal dahulu sempat terfikirkan oleh Naida jika ia berkomitmen mengenakan jilbab pasti ia akan dikucilkan oleh temen-temannya, dicemo’oh dan ditertawakan habis-habisan. Tapi ternyata itu fikiran yang salah….Dengan Naida berjilbab, Naida semakin dapat merasakan kasih sayang Allah kepadanya itu semakin dekat. Yang membuatku lebih bersyukur, teman-teman sepermainan ku yang lebih sering dikenal dengan sebutan “GEnK NicE n Beautifull” itu tidak menjauhiku. Sungguh beribu-ribu kata syukur Naida haturkan kepada sang Pemilik hati setiap insan.
@_@
Siang Itu, 01.35 Pm
            Siang itu mentari bersinar terik, nikmat sekali rasanya jika meneguk segelas teeh es yang dijual di warung bude yang letaknya tak jauh dari posisi tempat Naida berdiri. Tapi sayangnya itu tak mungkin Naida lakukan. Karena hari ini dia sudah berniat untuk menunaikan ibadah puasa sunah senin kamis, dan naidapun hanya dapat menelan ludah membayangkan kesegaran teeh es itu.
            Hari itu kebetulan kak Saila pergi kepasar membawa sepeda Naida karena harus berbelanja unuk persiapan 1 bulan sehingga Naida fikir terlalu berat jika kak Saila harus menjinjing blanjaanya. Sehingga hari ini Naida mau tidak mau harus berjalan kaki. Mungkin dahulu berjalan kaki adalah hal yang lumrah Naida lakukan. Tapi siang itu, Naida serasa ingin pingsan. Kadang disaat-saat seperti itu Naida teringat akan orang tuanya yang serba berkecukupan, apakah mereka sempat dan pernah memikirkan bagaimana keadaan naida sekarang ??? Sungguh sangat menyakitkan bagi Naida jika mengingat itu semua, karena walaupun Naida memiliki orang tua yang kaya, dia terlihat sangat sederhana dan baginya kak Saila itu jauh lebih beruntung hidupnya dibandingkan dirinya. Saat langkahnya benar-benar gontai, terdengar suara seseorang memanggilnya.
            “Hai Naida ??? Kok jalan kaki sih ??? mana sepedamu ???” Sapa Ananta dari dalam mobilnya.
            “Eh Ananta…..iya hari ini naida jalan kaki. Karna kak Saila harus memakai sepeda buat pergi kepasar ….” Jawab Naida dengan kening berkerut dan senyum simpul tersungging dibibir mungilnya.
            “owh kirain sepedamu bocor lagi kena paku. Ya udah low gitu ayo kamu ikut kami aja …. Biar kami antar kamu pulang” kata Ananta member tawaran.
Mendengar tawaran Ananta itu membuat Naida terdiam. Naida tentunya segan jika harus nebeng pulang bareng Ananta, walaupun sebenarnya Ananta itu juga teman satu geng dengan Naida dulu. Tapi Naida segan jika harus menolak ajakan Ananta itu, Naida tidak mau dianggap sok Alim sama Ananta dan yang lainnya. Karena itulah akhirnya Naida memutuskan untuk menerima ajakan Ananta.
@_@
Setelah beberapa menit mobil melaju dibawah kendali Ananta, Naida merasakan ada sesuatu yang janggal.
            “Ananta kita mau kemana ? Inikan bukan jalan pulang kerumah kita ???” Tanya Naida sedikit cemas. Melihat itu semua Ananta hanya menoleh sejenak kea rah Naida dengan senyum sinis tersungging di wajahnya, dan Ananta malah semakin mempercepat laju mobilnya.
            “Tenang lah Nai, apa kamu udah nggak percaya lagi ya sama kami ??? Cemas amat tuh muka kelihatannya ???” Tanya Krista tiba-tiba dengan suara yang sedikit berintonasi tinggi. Naida kemudian menunduk terdiam, memohon ampun kepada Allah karena dia hamper saja bersuudzon kepada teman-teman baiknya dan setelah itu Naida berfikir bahwa teman-temannya itu takkan mungkin mencelakakan nya.
            Beberapa menit pun telah berlalu, Naida akhirnya terbawa juga dengan suasana. Hingga sampailah mereka pada suatu tempat yang sepertinya sangat familiar oleh Naida.
            “okee ……….. akhirnya sampai juga kita.” Kata Ananta sembari memarkirkan mobil nya.
Melihat itu Naida menjadi terkejut, dan dia pun bertanya kepada Ananta.
            “Ananta, ngapain kita kesini lagi ??? bukannya ini café yang dulu sering kita jadikan tempat nongkrong waktu kia masih bandel-bandelnya dulu ???” Tanya Naida dengan nada yang semakin cemas.
            “Owe m jiii ………….. kamu masih ingat Nai ??? baguslah….” Kata Ananta menjawab dengan datar dan santai.
            “Tapi bukannya kita bertiga udah sepakat nggak akan ngedatengin ini kafe lagi ??? kan bahaya anak seumuran kita kelayapan di kafe yang kayak gini ??? jauh dari desa pulak nih tempatnya. Kalian serius mau mampir ke kafe ini ???
            “Aduh Nai …… Kamu nih makin cupu aja ya ??? udahlah enjoy aja kale …………. Kita nikmatin aja masa muda kita yang menyenangkan ini.” Kata Krista sambil merangkul Naida yang hanya terbengong dan mengajak Naida melangkah memasuki salah satu tempat yang tersedia.
            “Tapi Kris, ini nggak baek untuk kita…..” Kata Naida mencoba menasehati.
            “Udah lah Nai, kita kesinikan bukan untuk nongkrong kayak dulu-dulu….. kita kan Cuma mau makan doank…. Jadi ya fine.fine aja kan ???” Kata Ananta membela Krista.
            “Tapi aku puasa hari ini ……jadi aku nggak bias ikut kalian. Naida tunggu kalian disini aja ya ?” Pinta Naida kepada Krista dan Ananta. Tapi Ananta Dan Krista meyakin kan Naida agar dia tetap ikut serta, walaupun tidak makan. Karena tidak ingin dibilang sombong oleh kedua temannya itu, Naida akhirnya nurut saja dan sampailah mereka di dalam café itu. Usaha Krista dan Ananta tidak berhenti sampai disitu, meereka terus dan terus membujuk Naida hingga akhirnya Naida tergoda. Keimananya yang masih dangkal belum mampu menjadi tameng kekhusyu’an nya agar tetap istiqomah dijalan yang telah ia pilih. Dan kefuturan itu menghinggab dengan mudahnya pada diri Naida.
            Siang itu niat puasanya tadi pagi batal begitu saja, Naida telah makan siang bersama kedua teman-temannya. Seusai makan, Naida dan Krista segera berkemas untuk pulang. Tapi si Ananta tampak sibuk mencari sesuatu, wajahnya pucat dan tubuhnya menggigil.
            “Aan , kamu kenapa ??? sakit ya ?” Kata Naida khawatir.
            “Ah nggak…. Aku nggak kenapa-kenapa kok.” Kata Ananta sambil menelan beberapa butir pil yang tadi ia cari, dan setelah itu keadaan Anantapun membaik. Melihat itu Naida menjadi penasaran. Naida bertanya kepada Ananta, sebenarnya obat apa yang diminum nya itu ? Ananta tampak bingung menjelaskannya, tapi kemudian ia menemukan akal untuk mengelabuhi Naida.
            “Owh ini Cuma pil penenang aja kok Nai, kamu kan tahu keadaan keluargaku yang broken home. Atau kamu juga mau nyoba minum Nai ??? aku tahu kok kalau kamu itu sebenarnuya sering frustasikan mikirin sikap ortu mu yang nggak pernah perhatian apalagi ngeurusin kamu ………. Kayaknya nih obat bagus deh kamu minum kalau kamu lagi suntuk, biar hati dan fikiranmu itu tenang Nai ………….” Kata Ananta kepada Naida sambil menyerahkan satu bungkus pil-pil kecil yang entah apa namanya. Melihat kelakuan Ananta itu Krista menjadi marah.
            “Aan kamu apaan sih ???” menegur kelakuan Ananta.
            “Udah deh Kris, kamu diam aja ………… ini Cuma obat biasa aja kok. Biar Naida bisa tenang hidupnya……..apalagi sekarang dia udah coba untuk hidup lebih istiqomah, jadi nih obat cocok deh buat dia …………” Kata Ananta membela diri. Mendengar kata-kata Ananta tadi membuat Naida menjadi semakin yakin bahwa Ananta itu sebenarnya mempunyai niat baik untuk berbagi kepadanya, dan Naidapun menerima pemberian Ananta. Dengan harapan obat itu dapat menenangkan hatinya saat dia kesal memikirkan kedua orangtuanya. Ananta tersenyum bahagia melihat itu semua, tetapi Krista malah cemas dan mengkhawatirkan Naida.
@_@
Bersambung ............

Tidak ada komentar:

Posting Komentar