Jumat, 16 Desember 2011

SURAT MISTERIUS (PART 1)

Sahabat, waktu nda masih SMP dulu, nda pernah nulis sebuah cerita. kisahnya panjang banget, waktu itu nda puas banget bisa nulis itu cerita. Tapi sekarang kalau dibaca-baca ulang, kok rasanya cerita itu masih biasa-biasa aja. mau tau gak cerita ? baiklah mari kita baca sama-sama jika ada yang berkenan.....

SURAT MISTERIUS
PART 1

12 September 2005
Naida itulah panggilannya. Dia adalah anak dari seorang pengusaha kaya di kawasan ibu kota Jakarta. Tapi entah mengapa kedua orang tuanya menitipkan Naida dirumah nenek nya yang letaknya jauh dari keramaian kota sejak ia masih SD sampai saat ini usianya telah menginjak remaja.  Naida telah duduk di bangku SMP dan orang tuanya pun belum mengambilnya kembali untuk tinggal bersama mereka, karena alasan kesibukan akan karir nya masing-masing memaksa mereka untuk tetap menitipkan putrid bungsunya itu.
@_@
Pagi Itu, Pukul 04.50 am
            ”Allahuakbarrrrrrrrrr……….Allahuakbar………………………………….”
            Merdu suara muadzin yang melantunkan indahnya adzan pagi itu sungguh sangat menenangkan. Keindahan itu sungguh sangat menggugah hati setiap manusia yang beriman untuk segera bergegas menunaikan kewajibannya, yaitu melaksanakan shalat shubuh. Tapi tidak bagi Naida! Entah apa yang difikirkannya setiap mendengar seruan itu? Karena ia tetap asyik dengan kenikmatan tidur paginya dan kelakuannya itu membuat nenek nya merasa geram dan terpaksa menambah satu jadwal pokok sebagai rutinitas paginya yang sering disebut dengan “Rutinitas Membangunkan Naida”.
            “tok.tok.tok …………………
            “Naida ………….. bangun ……………………. Buka pintunya kamarnya Naida ………….. Lekas bangun dan ambil airwudhu…………….
“huaaaaaaaahhhhhh ………..iya nek ini Naida bangun kok…………………
Cepatlah Naida ………… ikutlah dengan Nenek k masjid ………………….. kita shalat berjama’ah disana ……………… ayo cepat bangun dan buka pintunya” suara nenek terdengar semakin meninggi karena mendengar jawaban dari Naida yang masih sayup-sayup. Sungguh perjuangan yang melelahkan jika harus seperti itu setiap paginya.  Hehehe …………..ada-ada saja. Tapi untunglah nenek Naida adalah seorang yang penyabar dan penuh kasihsayang. Nenek Naida tidak bosan-bosan mengingatkan cucunya untuk selalu mendekatkan diri kepada sang khalik, karena dia berharap di usia senja nya itu dia bias menyaksikan cucunya ttumbuh dalam balutan suasana yang agamis sehingga dapat berkepribadian baik. Tapi sampai detik ini harapanya itu belum tercapai sedikitpun, karena Naida belum menunjukkan sedikit ssaja perubahan dan entah harus menunggu berapa lama lagi hidayah itu akan menghampirinya.
@_@
Pagi Itu, Pukul 06.15 am
            Waktu sungguh sangat cepat berganti, kini jam telah menunjukkan angka 06.15 am. Naida telah tampak rapi dengan balutan busana seragam sekolahnya. Tapi walaupun seragam telah ia kenakan dia masih belum juga keluar kamar dikarenakan masih ada rutinitas pagi yang wajib untuk dilakoninya yakni berdandan. Karena ia membutuhkan waktu 30 menit untuk mempermak wajahnya dengan polesan-polesan bedak yang entah apa mereknya. Sungguh gadis belia yang genit. Mungkin ia tidak akan keluar dari kamarnya jika sang nenek tidak menegurnya dan mengingatkannya akan banyaknya waktu yang terbuang dan jauhnya jarak sekolah dari rumahnya. Dan begitulah setiapharinya.
            Sambil berlalu di depan kamar Naida, sang Nenek dapat melihat kesibukan Naida dari celah –celah pintu kamarnya dan beliau pun berkomentar.
            “Sudahlah Naida………………lekas berangkat ke sekolah. Hari sudah siang, udah jam 07 kurang 15 tuh ……………… nanti kamu bias telat lagi kalau masih lambat-lambat juga
            “Whattt ……………….!!! 15 menit lagi masuk nek sekolah ku
            “Iya nenek tahu itu………. cepatlah sedikit
            “Tapi nek ……………. Naiad belum siap berdandan …………………???
            “Sudah cukup dandanya saying, kamu sudah terlihat cantik……………jangan berlebihan kalau berdandan ! nanti jatuhnya malah tabaruj jadinya ……………… sudah sana berangkat.
            Menengar ucapan nenek itu sebenarnya sudah sangat membuat Naida menjadi pusing, karena istilah-istilah keislaman yang dipakai nenek untuk menasehatinya itu sungguh sangat awam ditelinganya.  Tapi sudahlah…………..itu tak penting ia rasakan, dan Naidapun berlalu.
            “Coba kamu denger nasehat nenekmu ini Naida…………….pasti kamu sekarang sudah istiqomah dan mau berjilbab seperti Saila” Desis nenek lirih sambil menatap Naida pergi ke sekolah.
@_@
Pagi Itu, 07.05 am
            Sampai juga akhirnya Naida disekolah, jantungnya masih berdetak cepat karena hormone adrenalin di tubuh mungilnya itu sepertinya meningkat. Betapa tidak ? Pagi itu Naida harus berlari selama perjalanan dari rumah nenek hingga sampai kesekolahnya, itupun Dia masih terlambat lima menit dan pintu gerbangpun telah ditutup.
            “Busyad dah ………… jam sekolah nih kecepatan kali ya ………… masak aku telat terus begini ???
Ya ampun ………………parah” kata Naida lirih dengan senyum liciknya yang sedang memikirkan sesuatu rencana untuk mengelabuhi pak satpam di sekolahnya hingga akhirnya usahanya itupun membuahkan hasil yang manis, karena Mang Ujang si satpam sekolah itu dapat dengan dirayunya dan membukakan pintu pagar dengan Cuma-Cuma.
Hehehe ……………..dasar satpam kalo masih lajang tuh ya begitu tuh …………….. gampang digombalin ……………hehehe” Naida bergumam lirih saambil ketaw cekikikan dan Naida pun mengucapkan terimakasih kepada Mang Ujang.
Makasih ya Mang ………………..hehe” kata Naida.
iya Neng ………………… tapi ingat ya, besok jangan telat lagi …………………capek Mamang bukanya neng” Kata Mang Ujang setiap Naida usai mengucapkan terimakasih. Naida hanya menjawab Mang Ujang dengan mengacungkan ibu jarinya kearah mang Ujang dan langsung berlari menuju ruangkelasnya. Lolos dari lubang Buaya tapi Naida harus masuk dan bertemu dengan Lubang Harimau. Hahaha ………………..Naida melirik arlojinya yang menunjukkan pukul 07.10 am itu tandanya guru itu sudah 10 menit ada di dalam kelasnya. Dengan keberanian nya Naida tetap melangkahkan kaki memasuki kelasnya dengan merencanakan seribu akal untuk mengelabuhi sang guru. Tapi sayang kali ini mata pelajaran pertama dikelasnya ialah MTK, dan itu tandanya Bu Beti yang terkenal killer sedang berdiri dihadapannya dan hukumanpun harus Naida terima dengan lapang dada karena Bu Beti tidak akan pernah mau menerima alas an apapun dari murit yang terlambat memasuki kelasnya. Hahaha………….sebagai hukumannya dan syarat bagi Naida agar dapat tetap mengikutu kelas Bu Betti itu, Naida harus meminta tanda tangan dari guru piket dan seluruh guru yang mengajar di SMP nya pada jam pertama pagi itu.
            “huft ………….kyak gini nih kalau udah 4 kali telat di pelajaran bu Beti ……………..hehe … sebel sih tapi enak juga bias jalan-jalan pagi” kata Naida sambil cengar-cengir sendirian.
@_@
Siang Itu, 01.30 Pm
            “Teng……..Teng……….Teng……………” Lonceng tanda pulang sekolah telah berbunyi. Naida bergegas mengemasi bukunya dan sesegera mungkin berlari pulang sambil memegangi perutnya. Melihat tingkah Naida yang tidak seperti biasanya membuat Lusi heran, dan Lusi segera menghampiri Naida yang sudah duluan berlari.
            “Naidaaaaaaaaaaaa………….tunggu aku…………..
            Mendengar teriakan Lusi itu membuat Naida menghentikan langkah kaki mungilnya walau hanya sejenak. Karena ia yakin Lusi akan sangat cepat menghampirinya melihat postur tubuh Lusi yang tinggi.
Eh ,……….kamu Si, kenapa kok manggil aku ???
Ndak ada apa-apa …………… heran aja aku liad kamu megang-megang perut sambil lari-lari gitu. Kamu sakit perut ya Da ?” Tanya Lusi kepada Naida siang itu.
Owh ,……….. kirain ada ape Si-Si. Nggak kenape-kenape kok si ……….. perut gue nih Cuma kelaperan aje kok. Ya udah ya low gitu gue duluan ye ……… laper nih” kata Naida dengan logat jakartanya dan Ia pun berlari.
Naida-Naida ……….. kasian kamu ya
@_@
Siang Itu, 01.50 Pm
            Setelah 20 menit perjalanan Naida tiba didepan rumah nenek. Sebelum Dia mengucapkan salam dis terlihat sangat ngos-ngosan karena harus berjalan kaki dari sekolah ke rumah nenek, itu semua karena sepeda yang biasa ia naiki harus di inap kan di bengkel karena bannya bocor terkena paku. Setelah dia rasa istirahatnya telah cukup, Naida segera beranjak dari kursi reot di depan rumah nenek untuk masuk kedalam rumah. Naida pun mengucapkan salam.
            “Assalamu’alaikum nek……………….Naida pulang” teriaknya keras sekali.
            “Wa’alaikumussalam ………….
Sejenak Naida menghentikan langkahnya, karena suara yang menjawab salam nya tadi asing ditelinganya.
            “Siapa itu ?? kok bukan suara nenek ??” katanya lirih dengan penuh penasaran. Belum sempat dia membuka mulutnya lagi untuk memanggil neneknya, ia dikejutkan oleh kehadiran sosok seorang wanita cantik berjilbab merah muda, berkulit putih bersih, bertubuh tinggi semampai dan dandanannya ituloh sederhana banget tapi tetap modis dipandang mata. Siapa dia? kok bias ada dirumah nenek??? Dalam keadaan tercengang nya itu, ia mengarahkan pandangannya dalam tatapan menyelidik kearah wanita itu. Sungguh kekaguman menyelimuti hati dan fikir Naida saat itu, dia sungguh sangat-sangat kagum melihat wanita yang tetap terlihat cantik walaupun harus mengenakan jilbab. Dan lamunannya seketika buyar ketika wanita itu menyapanya.
            “Naida …………. Kok bengong ??? kamu lupa sama gue ya ???
            “Siapa anda ???” Tanya naiad sedikit ketus karena setiap kali ia mendengar seseorang menggunakan logat Jakarta selalu membuatnya teringat akan keluarganya yang hidup di kota metropolitan dan mungkin telah melupakannya, karena sudah sejak ia duduk di kelas 4 SD sampai sekarang dia sudah SMP orang tua nya tak lagi ada menjenguknya. Ya walaupun terkadang Naida masih sedikit-sedikit menggunakan logat bahasa betawinya.
            Wanita dihadapannya itu hanya tersenyum simpul mendengar Tanya Naida yang ketus itu, sepertinya dia menyembunyikan sesuatu dari Naida.
            “Ya ampun Naida…………….. kok jadi ketus gitu sih lo ??? Hehehe …… masih anti ia denger bahasa gaul jakarte ???
            Mendengar perkataan nya tadi Naida hanya menyungutkan mulutnya dan berlalu begitu saja. Namun Naida masih berjalan dalam tatap mata yang kosong, sampai-sampai Naida tidak menyadari kehadiran sang Nenek dihadapannya dan tanpa sadar hamper saja badan mungilnya itu menabrak tubuh renta sang nenek.
            “Astagfirullah Naidaaaa………………hati-hati kalau jalan ! masak nenek sebesar ini juga nggak kelihatan ???
            Mendengar ucapan nenek tadi Naidapun tersadar dan hanya cengar-cengir sambil memainkan rambutnya.
            “hehehe …….. mmaf deh nek, nggak kelihatan ………….. J
Nenek hanya geleng-geleng melihat kelakuan Naida itu, nenek segera beranjak tapi tiba-tiba Naida menghentikan langkahnya.
            “Nek, siapa sih cewek itu nek ??? kok Naida nggak pernah liad ??? alim banget lagi penampilannya …………berjilbab dan pake rok lagi …
            “Itu kan Saila Syafitri ………….. kakak kamu ndok …..kamu lupa ya ???
            “Hah ???!! Serius lah nek ??? Masak Naida punya kakak secantik dan sealim dia ??? seneng sih liadnya ….. tapi apa nggak ribet ya nek pake-pake rok begitu ???
            “Hehehe …………. Nenek baru ingat, dulu waktu kamu diantar kesini kakak mu kan masih kelas 5 SD ya ? pantas saja kamu lupa …………… karena penampilan kakak mu sudah berbeda, iya kan ???
            “hoho ………….. iya juga ya nek,……….ckckck ……… nggak nyangka ya nek, kak Saila yang SD nya dulu tomboy banget sekarang bias sefeminin itu…… hhahahaha ……….lawak deh ngebayanginnya nek
            “Tadi nenek juga pangling pertama litany,………………..dan kamu itu Naida, seharusnya mencontoh itu sifat kak Saila sekarang, biar kamu juga makin cantik luar dalam
            “yaah mulai deh nenek berkhotbah …………………..capek deh …………hehehe” kata Naida sambil berlalu dari hadapan neneknya dan nenek hanya dapan geleng-geleng seraya mngerutkan kening melihat itu semua. Nenek pun melanjutkan langkahnya menuju ruang tamu untuk kembali berbincang-bincang dengan Saila.
@_@
Bersambung .........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar