Tampilkan postingan dengan label materi mentoring. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label materi mentoring. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 April 2011

CINTA

selamat membaca . semoga bermanfaat . http://dnurningsih.blogspot.com

Cinta dalam bahasa Arab disebut Al-Mahabbah yang berarti kasih sayang. Menurut Abdullah Nashih Ulwan cinta adalah perasaan jiwa dan gejolak hati yang mendorong seseorang mencintai kekasihnya dengan penuh gairah, lembut dan kasih sayang. Cinta adalah fitrah manusia yang murni, yang tak dapat terpisahkan dari kehidupannya.
   Diantara tanda-tanda cinta ialah rasa kagum/simpatik, berharap, takut, rela dan selalu ingat kepada yang dicintai. Seorang yang beriman sejak memproklammirkan bahwa tiada ilah selain Allah dan beriltizam (komitmen) sepenuh dayanya, maka Allah harus menempati posisi tertinggi cintanya. Semua tanda-tanda cinta tersebut selayaknya diberikan kepada Allah. Berupa rasa kagum terhadap kebesaran, keagungan dan kekuasaan Allah, mengharapkan cinta Allah, rahmat, keridhaan dan keampunanNya (QS.39:53),rela dan menerima ketentuan Allah sepenuhnya, takut kepada Allh, yang mrnghasilkan sikap menjauhkan diri dari maksiat, serta selalu mengingat Allah (QS.2:152; 13:28; 63:9; 59:19). Firman Allah :
"Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yanag beriman amat sangat cintanya kepada Allah..." (QS.2:165)
   Cinta muncul karena kesadaran telah menerima anugerah dan nikmat yang besar dari Allah, pemahaman betapa rasa kasih sayang Allah melingkupi detik-detik kehidupan kita, serta karena mengenal Allah (Ma'rifatullah). Sehingga seorang mukmin amat sangat cintanya kepada Allah dan memiliki hasrat yang besar untuk bertemu denganNya.
   Refleksi cinta adalah tunduk patuh, menurut,taat akan perintah Allah dan menjauhkan diri dari segala laranganNya. Mahabbatullah (rasa cinta kepada Allah) tidak cukup dengan hanya menjadi seorang 'abid (ahli ibadah), tetapi mewujud dalam upaya menegakkan kalimatNya/agamaNya.
   Islam merupakan agama fitrah yang juga mengakui adanya fenomena cinta yang melekat sebagai fitrah manusia.Allah telah memberikan petunjuk kepada hamba-hambaNya tentang prioritas dalam cinta. Firman Allah :"Katakanlah :'Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya dan (dari) berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya. Dan Allah tidak memberi pettunjuk kepada orang-orang fasik". (QS.9:24). Prioritas cinta dapat diklasifikasikan atas prioritas tertinggi, menengah dan terendah. Berdasarkan ayat di atas,prioritas cinta yang tertinggi adalah cinta kepada Allah, Rasulullah dan berjihad di jalanNya. Hal ini merupakan konsekuensi dan merupakan keharusan dalam Islam. Tak diragukan lagi bahwa seorang mukmin yang telah merasakan kelezatan iman di dalam hatinya akan mencurahkan segalanya cintanya hanya kepada Allah. Karenaia telah meyakini bahwa Allah-lah yang Maha Sempurna, Maha Indah dan Maha Agung. Tak ada satupun selain Dia yang memiliki kesempurnaan sifat-sifat tersebut. Maka lahirlah kesadaran bahwa hanya ajaran Allah-lah yang harus diikuti karena Dia-lah yang Maha Tinggi. Dia juga terdotong untuk mempraktekkan ajaran-ajaran Allah dengan senang hati, penuh keyakinan dan keimanan. Ia telah yakin bahwa untuk membanguan kepribadian yang sempurna dan membina mentalitas manusia hanyalah dengan ajaran Allah yang Maha Suci dari kekurangan.
   Rasa cinta seorang yang beriman kepada Allah akan mengambil bentuk awal berupa rasa cinta kepada Rasulullah SAW. Cinta kepada Rasulullah ( Mahabbaturrasul) ini berwujud sami'na wa atha'na (kami dengar dan kami taat) terhadap perintah rasul, berendah hati, mendahulukan, melindungi dan kasih sayang kepada beliau. Generasi terbaik ummat ini telah mencontohkan betapa Mahabaturrasul bukan hanya terbatas pada salam dan Shalawat, namun juga membentengi Rasulullah dari mara bahaya dalam banyak peperangan dan tampil dalam membela Islam.
Mahabbaturrasul muncul dari keikhlasan dan ketulusan syar'i, rasa cinta yang Allah tumbuhkan, yang tak dapat ditumbuhkan oleh manusia meski membelanjakan seluruh kekayaannya. Rasa cinta yang melebihi rasa cinta kepada bapak-bapak, anak-anak, saudara-sausara, istri-istri, kaum keluarga, harta, perniagaan, rumah-rumah yang disukai. Bahkan rasa cinta yang melebihi rasa cinta kepada diri sendiri.
   Sabda Rasulullah saw : "Hendaklah kalian mencintai Allah karena Dia memelihara kalian dengan nikmat-nikmat-Nya. Dan cintailah aku demi cintamu kepada Allah. Dan cintailah ahli rumahku demi cintamu kepadaku." (HR. At-Tirmidzi, Al-Hakim dari Ibnu Abbas). "Tidak beriman seseorang (dengan sempurna) diantara kalian kecuali aku lebih dicintai dari dirinya sendiri, orang tua dan seluruh manusia" (Al Hadits).
   Itulah mahabbaturrasul yang mewarnai hati Abu Bakar Ash Shiddiq ra. Yang membuatnya mendahulukan, melindungi dan tak membangunkan Rasulullah yang tertidur di pangkuannya, walaupun harus menahan sakit kakinya karena tersengat kalajengking hingga mengucurkan darah (peristiwa Hijrah).
   Kisah para Shahabat telah membuktikan ketinggian cinta merek kepada Allah, Rasulullah dan Jihad fi sabilillah. Seperti kisah Hazholah bin Amir ra. Yang terjun ke medan perang Uhud meniggalkan istri yang baru sehari sebelumnya dinikahi, dan akhirnya menemui kesyahidan. Ketika itu Rasulullah saw melihat dan berkata kepada para shahabat : "Sesungguhnya aku telah melihat para malaikat memandikan Hanzholah di tengah-tengah langit dan bumi dengan air hujan-dalam sebuah bejana dari perak." (HR. Turmudzi dan Imam Ahmad).
   Cinta dengan prioritas menengah adalah cinta kepada orang tua, anak, saudara, istri/suami dan kerabat. Cinta ini timbul dari perasaan sesorang, yang terikat hubungan dengan orang yang dicintainya dengan ikatan aqidah, keluarga, kekerabatan atau persahabatan. Syari'at Islam menilai perasaan cinta seperti ini sebagai cinta yang mulia dan agung. Ia termasuk cinta yang kedua setelah cinta kepada Allah, Rasulullah dan jihad di jalan Allah. Bagaimana cinta seseorang terhadap sesamanya tidak dianggap cinta yang luhur dan perasaan yang suci. Sedangkan semua hubungan sosial dan segala tata kehidupan dibina berdasarkan perasaan cinta dan kasih sayang semacam ini. Cinta ini merupakan hal yang perlu untuk mewujudkan kemashlahatan individu dan keluarga pada khususnya serta kemashlahatan bangsa dan kemanusiaan pada umumnya. Sabda Rasulullah SAW : "Tidaklah sempppurna iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya (sesama muslim) sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri." (HR. Bukhari dan Muslim)."Semua makhluk adalah tanggung jawab Allah. Maka yang paling dicintai Allah adalah yang paling memperhatikan kehidupan keluarganya". (HR. Thabrani dan Baihaqi).   
   Adapun cinta terendah ialah cinta yang lebih mengutamakan dan menomorsatukan cinta keluarga, kerabat, harta dan tempat tinggal dibandingkan terhadap Allah, Rasulullah dan jihad fisabilillah. Cinta jenis adalah yang paling hina, keji dan merusak rasa kemanusiaan. Termasuk pula dalam kategori cinta ini adalah kecintaan kepada sesuatu yang disembah selain Allah, sebagaimana firman Allah dalam QS.2:165, cinta kepada musuh-musuh Allah, sebagaimana Allah peringatkan dalam QS. Al-Mumtahanah (60):1, cinta berdasarkan hawa nafsu sebagaimana cintanya Zulaikha istri Al Azis kepada Nabi Yusuf as.
Tak diragukan lagi bahwa jika para pemuda Islam, kapan dan di mana saja, lebih mengutamakan cintanya kepada Allah, Rasulullah dan Islam maka Allah akan memberikan kemenangan bagi mereka di muka bumi ini.


DISKUSI Cobalah telaah hati kita masing-masing, bener nggak bahwa manajemen cinta di hati kita telah sesuai dengan kehendak Allah yang telah memberikan sebentuk hati itu kepada kita? Diskusikanlah bagaimana agar hati kita dapat menempatkan Allah, Rasulullah dan jihad fi sabilillah sebagai pprioritas pertama.


REFERENSI
· Abdullah Nashih Ulwan, Manajemen Cinta, Al Ummah, Panduan Aktivis Harokah  
· Koleksi Bahan Tarbiyah Islamic Network (ISNET,1996)

ILMU DAN URGENSINYA

selamat membaca . semoga bermanfaat . http://dnurningsih.blogspot.com
Perhatian Islam Terhadap Ilmu    Manusia tidak pernah menemukan agama yang sangat memperhatikan keilmuan dengan sempurna selain Islam. Islam selalu menyeru dan memotivasi penekunan ilmu pengetahuan, mengajak umatnya untuk menuntut, mempelajari, mengamalkan dan sekaligus mengajarkan ilmu. Islam menjelaskan keutamaan menunutut ilmu dan etikanya serta menegur orang yang tidak memperhatikannya. Islam juga sangat menghargai ahlal 'ilmi dan menganjurkan umatnya untuk dekat dengan mereka.
   Dalam kamus yang memuat kosa kata al-Qur'an, dinyatakan bahwa kata 'ilm (ilmu) disebutkan sebanyak 80 kali, dan kata-kata yang terbentuk dari kata tersebut (seperti a'lamu, ya'lamuna dst) disebutkan beratus-ratus kali. Selain itu jika kita teliti buku-buku hadits an-Nabawi akan kita temukan didalamnya judul-judul dan masalah-masalah tentang ilmu.

Aspek-aspek ilmu dalam pandangan Islam    Ilmu dalam pandangan Islam mencakup beberapa aspek kehidupan termasuk aspek ilmu dalam pengertian barat sekarang.
1. Aspek Wahyu Illahi
   Ilmu yang datangnya melalui wahyu Allah SWT. Ilmu ini menyingkap hakikat alamiah manusia dan menjawab setiap pertanyaan abadiyang tidak pernah hilang pada diri manusia yaitu : dari mana, kemana, dan mengapa ? Dengan adanya jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut manusia akan mengetahui asalnya, arah perjalanan yang harus ditempuh dan tujuan hidupnya. Ia akan mengetahui dirinya dan Tuhannya serta akan tenang menuju tujuan hidupnya. Aspekinilah yang pertama kali disebut 'ilmu, bahkan disebut ilmu yang paling tinggi oleh Imam Ibnu Abdil Barr.

2. Aspek Humaniora (manusia) dan kajian-kajian yang berkaitan dengannya.
   Ilmu yang membahas tentang segi-segi kehidupan manusia yang berhubungan dengan tempat tinggal dan waktu. Ilmu ini mengkaji manusia sebagai individu ataupun anggota masyarakat dalam bidang ekonomi, politik dan sebagainya.

3. Aspek Material
   Yaitu ilmu-ilmu yang mempelajari berbagai materi yang bertebaran di seluruh jagad raya ini, baik di udara, darat, maupun didalam bumi seperti fisika, kimia, biologi, astronomi, dsb.

   Pengertian Islam tentang ilmu tidak terbatas pada aspek terakhir yang menganggap materi sebagai objeknya seperti yang dipahami oleh dunia barat pada umumnya sekarang. Selain itu Islam menganggap aspek material akan melahirkan keimanan bagi yang mendalaminya (QS.3 : 190-191)

Keutamaan Ilmu dan Orang-orang yang Berilmu    Al-Qur'an adalah kitab terbesar yang mengangkat derajat ulul 'ilmi dan orang-orang yang berilmu. sebagaimana Allah menjelaskan bahwa Ia menurunkan kitab-Nya dan merinci ayat-ayat-Nya bagi orang-orang yang mengetahui.
   Dalam QS. 3 : 18 Allah memulai pernyataan dari diri-Nya, memuji para malaikat-Nya dan orang yang diberi ilmu. Allah meminta kesaksian mereka atas permasalahan kehidupan yang paling besar, yaitu masalah keesaan.
   Allah SWT dalam Al-Qur'an menjelaskan tentang keutamaan orang-orang yang berilmu :


· QS.39 : 9 Peniadaan persamaan antara orang-orang yang mengetahui dan yang tidak mengetahui.  

· QS.35 : 19-22 Kebodohan sejajar dengan buta, ilmu sejajar dengan melihat, hingga bodoh adalah kematian dan ilmu adalah kehidupan.  

· QS.35 :28 Ulama (orang yang mengetahui tentang kebesaran dan kekuasaan Allah) kian berilmu kian takut kepada Allah  



Pengaruh Ilmu Terhadap Iman dan Tingkah Laku 1. Ilmu memberi petunjuk kepada iman.

   Ilmu dan Iman berjalan beriringan dalam Islam (QS.30 : 36,58 :11). Bahkan al-Qur'an menyertakan iman kepada ilmu seseorang mengetahui lalu beriman. Dengan kata lain tidak ada iman sebelum ada ilmu (22 : 54; 34 : 6)  


2. Ilmu adalah penuntun amal

   Ilmulah yang menuntun, menunjuki dan membimbing seseorang kepada amal (47 : 19). Ayat ini dimulai dengan ilmu tentang tauhid lalu disusul dengan permohonan ampun yang merupakan amal. Ilmu juga merupakan timbangan/penentu dalam penerimaan atau penolakan amal. Amal yang sesuai dengan ilmu adalah amal yang diterima, sedangkan amal yang bertentangan dengan ilmu adalah amal yang tertolak (5 : 27). Maksud ayat ini ialah Allah hanya menerima amal seseorang yang bertakwa kepada-Nya. Jadi amal tersebut harus dilakukan karena keridoan-Nya dan sesuai dengan perintah-Nya. Hal ini hanya bisa dicapai dengan ilmu.  

   Untuk dapat berakhlak baik pun salah satunya harus dicapai dengan ilmu. Imam Ghazali berkata : "Muqadimah agama dan berakhlak dengan akhlak para nabi tercapai diramu dengan 3 dimensi yang tersusun rapi, yaitu : ilmu, perilaku dan amal" (ilmu mewariskan perilaku, perilaku mendorong amal).  


3. Kelebihan ilmu dari ibadah

   Dalam hadits Huzaifah dan Sa'ad, rasulullah SAW bersabda, "Kelebihan Ilmu lebih kusukai dari kelebihan ibadah, dan sebaik-baik agama adalah al-wara." Ilmu dilebihkan atas ibadah sebab manfaat ilmu tidak terbatas pada pemiliknya melainkan juga untuk orang lain. Ibnu Qoyyim al-Jauziyah dalam al-Miftah menyebutkan diantarnya : "Ilmu menunjukkan kepada pemiliknya amal-amal yang utama di sisi Allah."  


Perintah Mencari Ilmu    Allah menciptakan manusia dalam keadaan vakum dari ilmu. Lalu Ia memberinya perangkat ilmu guna menggali ilmu dan belajar (16 : 78). Banyak hadits-hadits yang menerangkan keutamaan menuntut ilmu : "Siapa yang berjalan di jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya ke syurga." (HR. Muslim). Termasuk didalamnya menghapal, menelaah, mengkaji, berjalan menuju majlis ilmu dan mendatangi ahlu ilmu. Dalam hadits lain :"Sesungguhnya para malaikat merundukkan sayap-sayapnya kepada orang yang mencari ilmu karena ridha terhadap apa yang diperbuatnya."
(a) Beberapa adab penting dalam mencari ilmu (Hikmah kisah Nabi Musa A.s. dalam menuntut ilmu pada Nabi Khidir dalam surat kahfi)  
(b) Semangat dalam mencari ilmu walaupun harus menghadapi kesulitan dan tantangan  
(c) Bersikap baik terhadap guru, memuliakan dan menghormatinya (18 : 66).  
(d) Sabar terhadap guru (18 : 67-70).  
(e) Tidak pernah kenyang mencari ilmu (20 : 114).  
Diniatkan karena Allah. Artinya harus dianggap sebagai ibadah dan jihad fi sabilillah. "Janganlah kalian mempelajri ilmu agar kalian bisa saling membanggakan di kalangan orang berilmu sedang kalian tidak memperdulikan orang-orang yang bodoh dan tidak membagus-baguskan majelis ilmu itu. Barang siapa berbuat demikian, maka nerakalah baginya."  

Hak-hak Ilmu atas Pemiliknya 1. Mengerti dan memahami
2. Beramal berdasarkan ilmu yang dimiliki
3. Mengajarkan ilmu dan menyebarkannya kepada orang lain
4. Wajib menjelaskan dan haram menutup-nutupinya
5. Berhenti sebatas kadar ilmu yang dimiliki

Senin, 11 April 2011

AYOK RAME-RAME KOKOHKAN KEIMANAN KITA

selamat membaca . semoga bermanfaat . http://dnurningsih.blogspot.com
Hal-hal yang menguatkan iman
1. Menuntut ilmu, yaitu ilmu yang menyebabkan bertambahnya pengetahuan dan keyakinan tentang iman (QS.35 : 28)  
2. Menyimak atau mentadaburkan Al-Qur'an (QS.17 : 282)  
3. Dzikir dan Fikir  
4. Dzikir adalah mengingat Allah beserta sifat-sifatnya, hal-hal yang menyangkut keagungannya dan membaca kalam-Nya (QS.33 : 41, 8 : 4)  
5. Fikir adalah aktivitas yang mengacu kepada renungan terhadap ciptaan Allah, ayat-ayat-Nya dan mukjizatnya (QS.3 : 190-191)  
6. Mengikuti dan komitmen terhadap Halaqah dzikir. " Tidaklah segolongan orang duduk seraya menyebut Allah melainkan para malaikat mengelilingi mereka, rahmat meliputi mereka, ketentraman hati turun kepada mereka dan Allah menyebut mereka termasuk ke dalam golongan yang berada disisinya." (HR. Muslim)  
7. Memperbanyak amal saleh yang harus diperhatikan yaitu :  
a. Sesegera mungkin melaksanakan amal-amal saleh (QS.3 : 33, 57 : 21, 22: 90) dan hadits : " Pelan-pelan (berhati-hati) dalam segala sesuatu adalah baik kecuali didalam amal akhirat ( HR.Abu Daud)  
b. Melakukannya secara terus menerus " Allah menyukai amalan yang walaupun sedikit tapi dikerjakan secara terus menerus (HR.Bukhari)  
c. Tidak merasa bosan. maksudnya kerjakanlah ibadah sesuai dengan kemampuan " Sesungguhnya agama itu adalah mudah dan tidaklah agama itu dikeraskan oleh seseorang melainkan justru ia akan dikalahkan. Maka berbuatlah yang lurus dan sederhana." (HR Bukhari)  
d. Mengulang amalan yang tertinggal dan terlupakan. " Barang siapa yang tertidur hingga ketinggalan bacaan wiridnya dari sebagian malam atau dari sebaian bacaan wirid, lalu di membacanya lagi antara shalat subuh dan shalat dzuhur maka ditetapkan baginya seakan-akan ia membacanya pada waktunya. " (HR. An-Nasai')  
8. Berharap amalnya diterima Allah dan merasa cemas jika amalannya tidak diterima Allah Swt  
9. Lakukan berbagai macam ibadah. " Barang siapa yang menafkahi dua istri dijalan Allah, maka ia akan dipanggil dari pintu-pintu sorga,' Wahai hamba Allah ini adalah baik' lalu barangsiapa yang menjadi orang yang benyak mendirikan shalat maka ia dipanggil dari pintu shalat. Barangsiapa menjadi orang yang banyak berjihad maka ia dipanggil dari pintu jihad. Barang siapa menjadi orang yang banyak melakukan shaum, maka ia dipanggil dari pintu Ar-Rayyan. Barang siapa menjadi orang yang banyak mengeluarkan shodaqoh maka ia dipanggil dari pintu shadaqah." (HR. Bukhari). Berbakti kepada orang tua adalah pertengahan dari pintu surga."(HR Tirmidzi)  
10. Dzikrul maut." Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian." (HR. Tirmidzi) "Dulu aku melarangmu menziarahi kubur, ketahuilah, sekarang ziarahilah kubur karena hal itu dapat melunakkan hati, membuat mata menangis, mengingatkan hari akhirat dan janganlah kamu mengucapkan kata-kata yang kotor." (HR.Hakim)  
11. Mengingat akhirat, yaitu mengingat nikmatnya surga dan keras atau pedihnya neraka (QS.56 : 75, 78)  
12. Bernunajat kepada Allah dan pasrah kepada-Nya. Maksudnya : memohon kepada Allah dengan ketundukkan dan kepasrahan yang sedalam-dalamnya.  
13. Tidak berangan-angan secara muluk-muluk (QS.26 : 205-207,10 : 45)  
14. Memikirkan kehinaan dunia(QS.3 : 185) Hadits : " Dunia itu terlaknat, dan terlaknat pula apa yang ada didalamnya, kecuali dzikrullah dan apa yang membantunya atau orang yang berilmu atau orang yang mencari ilmu." (HR. Ibnu Majah)  
15. Mengagungkan hal-halyang terhormat disisi Allah . (QS.22 : 30,32)  
16. Al Wala Wal Bara artinya : saling tolong menolong dan loyal kepada sesama muslim dan memusuhi orang-orang kafir (QS.5 : 2)  
17. Tawadu ( rendah hati ). " Barang siapa menanggalkan pakaian karena merendahkan diri kepada Allah padahal ia mampu mengenakannya maka Allah akan memanggilnya pada hari kiamat bersama para pemimpin makhluk, sehingga ia diberi kebebasan memilih diantara pakaian-pakaian iman mana yang dikehendaki untuk dikenakannya." (HR. Ath.Thirmidzi)  
18. Muhasabah diri ( QS.59 : 18)  
19. Doa (QS.2 : 186)



Kamis, 03 Maret 2011

SABAR

selamat membaca . semoga bermanfaat . http://dnurningsih.blogspot.com
TUJUAN
· Peserta mengetahui pengertian sabar  
· Peserta mengetahui macam-macam sabar  
· Peserta mermahami hikmah cobaan bagi kaum mukmin  



METODE PENDEKATAN
· Ceramah dan diskusi  



RINCIAN BAHASAN

Pengertian Sabar
   Ditinjau dari segi bahasa sabar berarti menahan, mencegah diri atau mengekang. Dalam QS.18:28, sabar berarti "Tahanlah dirimu bersama mereka ". Secara istilah sabar berarti " Menahan diri atas segala sesuatu yang tidak disukai karena mengharap ridho Allah SWT" (QS.13:22).
   Istilah lain tentang sabar antara lain:
1. Bila berupa musibah disebut dengan shabar. Lawan katanya adalah keluhan (Jaza'), kecemasan atau kegelisahan (lihat akhir QS.14:21).  
2. Bila menahan amarah disebut halim atau bijaksana. Lawan katanya menggerutu.  
3. Sabar dengan rezeki sedikit disebut qona'ah atau rela dan puas. Lawan katanya adalah rakus.  
4. Sabar dalam menahan syahwat perut dan seksual disebut iffah atau kehormatan dan martabat diri.  

   
   Menurut Imam Al-Ghazali sabar adalah sabar terhadap musibah yang tidak dapat dihindarkan atau tidak mampu berupaya menyelamatkan diri. Tapi bila seseorang mampu menghindarkan diri, menolak atau melawannya, maka dalam hal ini sabar tidak diperbolehkan.
   Sabar yang terpuji ialah jika dilakukan pada saat yang tepat. Sedangkan bila terlambat tidak akan berharga atau bermanfaat (QS.14:21, 54: 14-16). Sabar yang terpuji juga motivasinya karena Allah SWT, bukan untuk memperoleh pujian atau tanda jasa dari manusia.

Macam-macam Sabar    A. Sabar menurut sasarannya terbagi dua, yaitu:
1. Fisik, yaitu menahan penderitaan badan (misalnya sakit yang berat atau luka parah ).  
2. Mental atau nafsu, yaitu dalam menghadapi tuntutan adat kebiasaan atau dorongan syahwat.  


   B. Dalam Al-quran, terdapat banyak aspek kesabaran yang dirangkum menjadi dua, yaitu menahan diri terhadap yang disukai dan menanggung hal-hal yang tidak disukai.    
   
   Rinciannya adalah sbb :
1. Sabar terhadap petaka dunia, seperti bencana alam dan tantangan jaman. Yang demikian akan dialami oleh semua manusia, orang baik atau jahat, beriman atau kafir (QS.2:155-157).  
2. Sabar terhadap gejolak nafsu :  


· Menyangkut kesenangan hidup (QS.21:35,89:15-16,64:15,63:9,3:14-15)  

· Menahan dorongan nafsu seksual (QS.12,4:25)  

· Menahan marah dan dendam (QS.16:126)  


3. Sabar dalam ketaatan kepada Allah, yaitu :  


· Sabar sebelum ketaatan, yaitu denagn melurus niat dengan melawan riya dan penyimpangan lainnya (QS.98:5)  

· Sabar pada saat bekerja yaitu dengan tidak melalaikan Allah dan tidak malas (QS.29:58-59).  

· Sabar setelah selesai pekerjaan, yaitu dengan tidak merasa bangga karena riya dan mencari popularitas (QS.47:33,2:264)  


4. Sabar dalam kesulitan berdakwah dijalan Allah, yaitu :  


· Sabar dari berpalingnya manusia dari dakwah (71:5-7, 16:127)  

· Sabar terhadap gangguan manusia, baik perbuatan ataupun ucapan (QS.73:10)  

· Sabar terhadap panjangnya perjalanan dakwah(QS.2:214)  


5. Sabar dimedan perang (QS. 8:45-47, 8:65-66)  
6. Sabar dalam pergaulan antara manusia[4:19, 41:34-36]  


Hikmah Cobaan bagi Orang Beriman    Secara umum kesabaran ditujukan kepada segenap manusia, karena dialah satu-satunya makhluq Allah yang dianugerahi akal dan selalu dibebani ujian serta cobaan. Imam Al-Ghazali berkata, "Sabar merupakan ciri khas manusia dan tidak dipunyai oleh hewan karena kekurangan-kekurangannya, dan tidak pula oleh malaikat karena kesempurnaannya." Secara khusus, yaitu ditujukan kepada orang-orang beriman, karena mereka akan menghadapi tantangan, gangguan, ujian serta cobaan jiwa dan harta benda.
   Adanya cobaan bagi ahli iman merupakan suatu kepastian yang mengandung tujuan dan hikmah, yaitu :
1. Untuk membersihkan barisan mu'minin dari kaum munafik (QS. 3:179, 29:10-11, 22:11). Ujian yang dihadapi para da'i merupakan penegasan dan penyaringan terhadap tingkatan kaum beriman dan menyisihkan yang buruk seperti menyisihkan karat dari besi.  
2. Mendidik kaum beriman dan menjernihkan hati mereka (QS. 3:140-142, 3:154).  
3. Meningkatkan kedudukan orang-orang beriman di sisi Allah. Allah SWT meninggikan derajat mereka, melipatgandakan pahala, paling tidak menghapus dosa-dosa mereka. "Tidaklah seorang muslim karena kesedihan , kesusahan, kepayahan, penyakit dan gangguan dari yang menusuk tubuhnya kecuali dengan itu Allah mengampuni dosa-dosanya. " (HR Bukhari.)  


REFERENSI
· Dr.Yusuf Al-Qardhawi, Al-Qur'an Menyuruh kita sabar, GIP.  
· ISNET, Koleksi Bahan Tarbiyah, 1996  
· Ibnu Qoyyim Al-Jauuziyah, Hikmah Cobaan, Pustaka Al-Kautsar  


Syukur Nikmat

TUJUAN

· Peserta mengetahui makna syukur nikmat secara bahasa maupun istilah  
· Peserta memahami pentingnya syukur nikmat  
· Peserta mengetahui cara bersyukur  
· Peserta mengetahui hal-hal yang dapat mngubah nikmat menjadi naqmah (siksaan)  



METODE PENDEKATAN
· Ceramah dan Diskusi  



RINCIAN BAHASAN

Makna Syukur Nikmat
   Syukur secara bahasa adalah berterima kasih. Menurut istilah syukur adalah memberikan pujian kepada yang memberi kenikmatan dengan sesuatu yang telah dibeikan kepada kita berupa perbuatan ma'ruf, dalam pengertian tunduk dan berserah diri kepada-Nya.

Pentingnya Syukur Nikmat

· Syukur adalah wasiat pertama yang disampaikan Allah SWT kepada manusia. Setelah manusia mampu berpikir, Allah memerintahkannya untuk bersyukur kepada-Nya dan kepada kedua orang tuanya [31:14, 2:172, 17:3, 27:19].  

· Allah memberikan pujian kepada hamba-Nya yang tidak pernah lalai dalam mensyukuri nikmat-Nya [6:53, 3:145].  

· Akan menambah kuatnya iman dan kenkmatan [14:7]  

· Allah tidak akan menyiksa orang-orang mukmin yang senantiasa bersyukur [4:147]  

· Allah tidak menyukai orang yang mengkufuri nikmat dan mencela orang-orang yang tidak pandai mensyukuri nikmat [2:152, 100:6, 76:3-4]. "Hendaklah tiap orang dari kalian berhati yang bersyukur dan lisan yang selalu mengingat..."(H.R. Turmudzi dan Ibnu Majah). Sesungguhnya Allah ridha kepada seorang hamba yang setiap makan dan minumnya memuji Allah (atas karunia yang diberikan Allah kepadanya).  




Cara Bersyukur
1. Syukur yang dilakukan dengan hati (Syukru Qalbiy).  


· Yaitu mengakui nikmat-nikmat Allah dan mencintainya. "Mengingat kenikmatan akan berpengaruh (membekas) pada kecintaannya kepada Allah Azza wa Jalla." (H.R. Abu Sulaeman al-Washitiy)  



2. Syukur yang dilakukan oleh lisan (Syukru Lisan).  


· Yaitu memuji kepada-Nya dan atas anugrah ynag dilimpahkanNya [93:11]. Selain itu mempunyai kesadaran untuk menyatakan bahwa nikmat itu datang hanya dari sisi Allah [16:53]  



3.   Syukur yang dilakukan oleh anggota badan (Syukru Jawarih),
· Yaitu dengan menggunakan anggota tubuh/melakukan aktivitas dalam rangka tunduk kepada-Nya yang ditujukan hanya untuk memperoleh keridhaan-Nya. Juga dengan meninggalkan segala bentuk kemaksiatan serta mempersembahkan dan menundukkan kenikmatan yang dilimpahkan Allah untuk menaati-Nya dan memperoleh keridhaan-Nya  


   
Bersyukur kepada Allah harus tercermin dalam hati, lisan dan anggota tubuh, karena dengan hati itulah kita merasakan, mengetahui, menyambut dan membicarakan nikmat-nikmat Allah.

Nikmat bisa berubah menjadi Naqmah (siksaan)    Nikmat bisa menjadi naqmah karena berbagai perkara, antara lain:
1. Jika kita melakukan kemaksiatan dan berbuat dosa, yaitu membalas nikmat Allah dengan hal-hal yang dimurkai-Nya [30:41, 4:39].  
2. "Seorang hamba pada hari kiamat tiada melangkahkan kedua kakinya, sehingga ditanyakan kepadanya empat perkara, yaitu tentang umurnya dihabiskannya untuk apa, tentang ilmunya diamalkan untuk apa, tentang hartanya darimana diperolehnya dan untuk kepentingan apa dihabiskan, serta masa muda dihabiskan untuk apa." (H.R. Tarmudzi).  
3. Meyakini bahwa anugrah yang dimilikinya bukan dari Allah tapi atas usahanya sendiri atau dari selain Allah [28:78, 16:53-54,84].  
4. Sikap sombong, merasa diri lebih mampu dari orang lain sehingga ia mnecela orang lain dan membangga-banggakan apa yang di milikinya baik harta, sawah ladang, ilmu, atau kedudukan [104:1-3]  
5. Tidakmenunaikan hak-hak Allah.  
6. Bila kita memiliki ilmu walaupun sedikit, hendaklah tetap kita ajarkan kepada orang lain. Bila kita mempunyai harta walaupun sedikit, hendaknya kita infakkan, karena dalam harta itu ada hak-hak orang lain [70:24-25]  



REFERENSI

Royyad al-Haqil, Mensyukuri nikmat Allah, GIP.